Website Resmi Forum Kerukuman Umat Beragama Kabupaten Sidoarjo

Tukar Lahan demi Jaga Kerukunan

Bagian depan GKJW Mlaten, Krembung

 

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mlaten dan Masjid Darussalam di Desa Wonomelati, Kecamatan Krembung yang letaknya saling menghadap jadi bukti kuatnya toleransi antar umat beragama di sana yang sudah terjalin sejak dulu.

Menurut sepengetahuan Pendeta Anggraeni, gereja lebih dulu dibangun sebelum masjid. Letak bangunan gereja berada di atas tanah yang sekarang ini ditempati masjid. Sementara tanah yang akan dibangun menjadi masjid berada di tanah yang saat ini ditempati gereja.

Namun, para pendahulu yang terdiri dari tokoh agama dan tokoh masyarakat bersepakat untuk menukar tempat tersebut. Alasannya agar umat Kristen maupun Islam bisa saling menghadap. -tidak saling bersingkuran.

“Mbah-mbah kita dulu toleransinya sudah sangat luar biasa. Oleh sebab itu antara Masjid dan Gereja dibuat menghadap,” ungkap Pendeta Anggraeni.

Posisi kiblat masjid yang tidak bisa ditawar menjadi alasan utama kedua umat untuk tukar lahan. Karena jika tidak bertukar tempat maka posisi teras dan halaman masjid berada di sebelah timur, sehingga bagian belakang masjid menghadap halaman depan gereja.

Hal itu yang menjadi dasar para pendahulu yang menganggap tabu posisi menyingkur atau tidak saling menghadap. Sehingga, para sesepuh kedua agama bersepakat untuk menukar tempat agar halaman dan pintu masuk masing-masing tempat ibadah bisa bertatap muka.

Alhasil, kesepakatan tersebut bisa dirasakan manfaatnya hingga saat ini. Umat Islam dan Kristen hidup rukun serta saling pengertian. Tak hanya dalam kehidupan sosial, tetapi saat melaksanakan ritual peribadatan pun mereka saling menjaga dan saling mencukupi kebutuhan jika diperlukan.

Salah satu contoh kecil saat ibadah Salat Jumat atau salat hari raya. Halaman GKJW dipersilahkan untuk dipergunakan sebagi lahan parkir para jamaah yang melaksanakan salat di masjid. Mereka pun saling bertegur sapa dan mengucapkan selamat hari raya.

Gereja yang didirikan sekitar tahun 1883 itu merupakan bagian dari sejarah masyarakat kristen pertama di Sidoarjo. Saat itu masyarakat Kristen Sidokare bermigrasi ke Jombang. Namun beberapa dari mereka langkahnya terhenti di Desa Wonomelati. Setelah itu membentuk sebuah komunitas masyarakat dan mendirikan sebuah gereja.

Meski sudah 100 tahun lebih bangunan gereja itu masih berdiri kokoh. Kita bisa menikmati pilar dan cendela gereja khas zaman dulu. Yang manarik lagi lonceng di depan gereja yang masih digunakan hingga saat ini yang usianya 112 tahun.

Lonceng gereja yang usianya ratusan tahun

Leave A Reply

Your email address will not be published.