Website Resmi Forum Kerukuman Umat Beragama Kabupaten Sidoarjo

GKJW SIDOARJO ADAKAN SARASEHAN KEBANGSAAN

Narasumber foto bersama panitia. Berdiri tengah: M.Idham Kholiq berpeci, Pdt.Kristanto MTh, Feri Kuswanto berpeci dan Dr. Wiyono
Narasumber foto bersama panitia.
Berdiri tengah: M.Idham Kholiq berpeci, Pdt.Kristanto MTh, Feri Kuswanto berpeci dan Dr. Wiyono
Sidoarjo, Jum’at 19 Mei 2017

Jumat (19/5) sejak pukul 19.00 ratusan jema’at Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sidoarjo berkumpul di sekretariat GKJW Jalan Kombes pol M.Duryat Sidoarjo. Malam itu mereka berkumpul bukan utk melaksanakan kegiatan-kegiatan rohani, tetapi para jema’at ini berkumpul utk mengikuti kegiatan Sarasehan Hidup Berkebangsaan dalam Bingkai NKRI dan Dasar Negara Pancasila.

Pdt. Kristanto MTh, Gembala GKJW Sidoarjo yang juga selaku ketua panitia, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan sarasehan kebangsaan ini bagi jemaat GKJW Sidoarjo sangat penting karena GKJW adalah bagian dari sejarah bangsa. Sarasehan kebangsaan ini bertujuan memperkuat kesadaran dan peran jema’at GKJW dalam kehidupan berbangsa. Jema’at GKJW harus keluar dalam arti berani berbuat yang berarti bagi masyarakat dan bangsa. Jema’at GKJW tidak boleh bersikap eksklusif atau bersikap merasa kecil dan tidak punya peran.

“Dalam sejarah kemerdekaan banyak pemuka-pemuka Kristiani yang menjadi bagian dari tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan. Lebih khusus umat GKJW punya sejarah penting dalam gerakan kemerdekaan di dalam kisah pergerakan melawan penjajah Belanda di Malang”, demikian papar Pdt. Kristanto MTh.

Sarasehan ini menghadirkan M. Idham Kholiq S.Sos selaku Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sidoarjo. Menurut M.Idham Kholiq yang juga alumni Fisipol UGM ini, kerekatan dan ketahanan kebangsaan kita saat ini sedang diuji kembali dengan berbagai ancaman dan tantangan. Ancaman datang dari menguatnya paham radikal dari kelompok-kelompok agama. Paham radikal ini nyata-nyata menabrak-nabrakkan agama dan kebangsaan. Menurut paham ini, NKRI tidak sesuai syariat Islam, Pancasila tidak sesuai dengan syariat Islam, semuanya buatan manusia yang kafir dan harus diganti dengan khilafah.

“Menurut saya, mereka ini hanya melihat perintah agama secara simbolik bukan substansi. Padahal agama memerintahkan hidup damai. NKRI dan Pancasila ini, meskipun tidak menggunakan istilah-istilah Islam, tapi semuanya tidak ada yang bertentangan dengan Islam karena dirumuskan bersama para tokoh agama dan ulama. Substansi perintah Islam adalah kedamaian dan hidup harmoni”, demikian ujar Idham.

Dalam pandangan Idham Kholiq, dengan falsafah Pancasila selama ini masyarakat bisa hidup damai di dalam perbedaan suku dan agama. “Justru sekarang ini kedamaian dan harmoni terkoyak karena berkembangnya paham-paham radikal di masyarakat yang dengan mudah mengkafir-kafirkan orang lain”, lanjut Idham.

Mengapa paham ini mudah berkembang di masyarakat ?

Menurut Idham ada beberapa faktor yang menjadikan paham radikalisme berkembang di masyarakat. Pertama, propaganda paham-paham agama yang keras sangat mudah berkembang melalui media sosial. Kedua, pengajaran-pengajaran agama oleh para pendakwah agama yang salah. Ketiga, masalah-masalah kemiskinan yang tidak disentuh oleh peran-peran umat lintas agama. Keempat, perilaku beragama yang masih eklusif.
Idham Kholiq berpendapat bahwa ke depan, harus ada gerakan bersama umat beragama yang pro NKRI. caranya antara lain, pertama, merubah perilaku beragama yang eksklusif menjadi inklusif, bahwa kita berbeda agama tetapi kita satu bangsa, pandangan ini harus bermuara pada persatuan. Kedua, harus ada kampanye yang digalakkan semua tokoh agama melalui media sosial tentang kerja-kerja positif kerukunan umat beragama yang juga mendorong terbangunnya persatuan, sehingga bukan hanya paham-paham agama yang radikal saja yang mewarnai konten media-media sosial.
Ketiga, penggalangan kerjasama umat beragama dalam peran-peran penyelesaian masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, keterbelakangan dan lain-lain yang dilakukan bersama-sama tanpa memandang agama. hal ini tentu akan membangun persepsi positif masyarakat terhadap kerukunan umat beragama. Keempat, pengajaran agama yang positif bagi kemanusiaan, persaudaraan dan perdamaian untuk melawan paham-paham agama yang radikal.
Selain M.Idham Kholiq, hadir narasumber lain yaitu Dr. Wiyono anggota DPRD dari PDIP dan Sdr. Feri Kuswanto Sekretaris GP Ansor Sidiarjo. Acara berlangsung relatif meriah dengan antusiasme tinggi para peserta sarasehan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.