Website Resmi Forum Kerukuman Umat Beragama Kabupaten Sidoarjo

FKUB Sidoarjo Rajut Tali Asih dengan GKI Diponegoro dan Pantekosta Arjuno

Suasana haru menyelimuti kunjungan rombongan FKUB Sidoarjo ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) di jalan Diponegoro-Selasa, 29 Mei 2019. Pasalnya, sesampai di sana pengurus GKI menghadirkan seorang saksi mata untuk menjelaskan kejadian 13 Mei pagi itu.

Menurut pengakuannya, seorang security gereja bernama Yesaya jadi korban ledakan bom yang dibawa oleh seorang ibu dan 2 orang putrinya. Dari aksinya itu, Yesaya menjadi orang yang paling berjasa karena keberaniannya menghalau masuknya teroris ke dalam gereja.

Tak hanya menghentikan langkah teroris, aksinya tersebut juga berhasil menggagalkan meledaknya bom lainnya yang lebih besar yang masih belum sempat diledakkan.

Pihak kepolisian pun mengklaim bahwa bom yang belum sempat diledakkan adalah bom terbesar di antara aksi teror bom gereja di Surabaya.

Keyakinan itu didapatkan usai pihak Gegana meledakkan bom tersebut. “Bom yang diledakkan gegana itu suaranya luar biasa kerasnya,” kata saksi mata GKI itu.

Usai mendengarkan kesaksian tersebut, kunjungan ke GKI ditutup dengan penyerahan tali asih berupa santunan bagi para korban. Deklarasi berupa seruan melawan teroris juga dilakukan di dalam gereja.

Namun, deklarasi di GKI berbeda dengan di tempat-tempat sebelumnya karena diikuti jemaat dari Gereja Koptic Mesir yang secara kebetulan berkunjung ke sana untuk melihat secara langsung kondisi pasca ledakan.

Usai dari GKI, perjalanan dilanjut ke gereja Pantekosta di jalan Arjuno. Di sana disambut langsung oleh Pendeta Jonathan yang merupakan saksi mata kejadian waktu itu.

Ia menjelaskan, sebelum meledakkan dirinya, aksi terduga teroris bernama Dita Uprianto sebelum memasuki halaman gereja sempat terhadang oleh Warsiman petugas parkir, Giri Catur Sungkowo security gereja, dan Daniel Putra Kusuma jemaat gereja.

“Mereka jadi pahlawan bagi kami, para jemaat yang ada di dalam,” ujar Jonathan.

Andai tidak ada mereka bertiga, lanjut Jonathan, kemungkinan mobil Dita bisa masuk dan meledak di dalam gereja.

Kejadian di gereja Pantekosta membuat kita semakin sadar bahwa aksi terorisme tak memandang agama, suku, ras, dan karakter perbedaan lainnya. Petugas parkir dan security gereja merupakan muslim yang bertugas di gereja selama kurang lebih 20 tahun.

Jonathan mengaku, meski mereka berbeda agama-pihak gereja dan para jemaat menganggap mereka saudara, karena sudah bertahun-tahun mengabdi di Pantekosta. Selain memberi santunan kepada keluarga korban, beberapa perwakilan gereja juga hadir di pemakaman mereka berdua sekaligus mengantarkan jenazah ke makam.

Leave A Reply

Your email address will not be published.