Website Resmi Forum Kerukuman Umat Beragama Kabupaten Sidoarjo

FKUB Sidoarjo: Kasus Sabuga, Memprihatinkan

Sidoarjo – Polemik kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok belum juga usai. Kasus tersebut bahkan memicu adanya demonstrasi besar pada tanggal 4 November dan 2 Desember lalu. Saat ini persoalan kerukunan beragama di Indonesia kembali diuji dengan adanya kasus Sabuga.

1919541_101530463201059_2047144_nOrganisasi Masyarakat (ormas) yang mengatasnamakan Pembela Ahlu Sunah (PAS) dan Dewan Dakwah Islam (DDI), pada Selasa (6/12) telah membubarkan kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal 2016 yang diadakan di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Kota Bandung. PAS dan DDI menilai, KKR Natal 2016 melanggar aturan tentang peribadatan yang seharusnya dilaksanakan di gereja.

Menanggapi hal tersebut, Ridwan Kamil selaku Wali Kota Bandung telah mengeluarkan pernyataan sikap yang juga diunggap di akun facebook miliknya. Pernyataan tersebut sebagai salah satu hasil rapat dan kesepakatan antara Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dengan MUI, Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKUB), Forum Silaturahmi Ormas Islam (FSOI), Kementerian Agama Kanwil Kota Bandung, Bimas Kristen, Kemenag Jawa Barat, Polrestabes Bandung serta Kejaksaan Negeri Kota Bandung, pada tanggal 8 Desember. Juga hasil rapat antara Pemkot Bandung dan Komnas HAM pada 9 Desember.

Ada tujuh (7) butir pernyataan yang dinyatakan oleh pimpinan Kota Bandung tersebut. Tiga poin utama yang sangat penting yaitu, pertama, bahwa kegiatan ibadah keagamaan TIDAK memerlukan izin formal dari lembaga negara, cukup dengan surat pemberitahuan kepada kepolisian. Kedua, kegiatan ibadah keagamaan diperbolehkan dilakukan di gedung umum, selama sifatnya insidentil. SKB 2 Menteri 2006 hanyalah tata cara untuk pengurusan izin pendirian Bangunan Ibadah permanen/sementara. Ketiga, tidak boleh ada kelompok masyarakat sipil yang melakukan pembatasan, perintangan, unjuk atau melakukan kegaduhan terhadap kegiatan ibadah keagamaan yang sudah legal karena melanggar KUHP Pasal 175 dan 176, dengan hukuman kurungan badan maksimal 1 tahun 4 bulan.

Menanggapi kasus Sabuga Bandung, M. Idham Kholiq selaku sekretaris FKUB Sidoarjo menyatakan keprihatinannya. Melihat perkembangan yang ada yang sudah diputuskan oleh Pemkot Bandung dan FKUB Kota Bandung, ia sangat menghormati dan mengapresiasi keputusan tersebut. Idham menyatakan bahwa “Seluruh umat beragama di Sidoarjo hendaknya melihat semua persoalan dan kasus sebagai dinamika masing-masing daerah, dengan situasi dan kondisi masing-masing yang tidak perlu dianggap sebagai masalah seluruh masyarakat Indonesia”.

Idham kembali mengingatkan, “Agar seluruh masyarakat beragama di Kabupaten Sidoarjo untuk tetap menjaga keharmonisan dan situasi kondusif yang ada di Sidoarjo. Masing-masing umat beragama harus saling menghormati dan meningkatkan kerja sama dalam koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (NDA)

1 Comment
  1. Viktor Sagala says

    Tapi walikota Ridwan Kamil cukup bijaksana menyikapinya. Perminta maafnya juga perlu diapresiasi.

Leave A Reply

Your email address will not be published.