Website Resmi Forum Kerukuman Umat Beragama Kabupaten Sidoarjo

Bijak di Tengah Pandemi

Foto penulis

Oleh RD Agustinus Tri Budi Utomo

Pandemi Covid 19 disikapi beragam oleh masyarakat Indonesia. Keberagaman penyikapan itu juga menjadi pembeda sekaligus keunikan Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Jika di negara-negara lain keputusan menyikapi pandemi dilakukan secara tegas dan mengikat dengan kebijakan lockdown. Sementara di Indonesia masih sebatas himbauan dan edukasi tentang Covid 19.

Negara kita tidak menerapkan sistem lockdown, dengan harapan kesadaran dan kewaspadaan tercipta secara mandiri. Sehingga, masyarakat tidak hanya perhatian dan peka terhadap virus dan dampaknya secara medis, tetapi juga secara sosial ekonomi dan aspek lainnya. Jika disimpulkan ada 6 poin yang bisa diambil dari peristiwa saat ini.

Pertama, saat ini kita sedang dipanggil untuk mengasah kepedulian menciptakan kesehatan dan keselamatan bersama-sama, dan bersama masyarakat dunia lainnya.

Kedua, belajar mengatasi kepanikan dengan kewaspadaan yang rasional dan upaya-upaya yang produktif. Sehingga, di tengah wabah masyarakat masih bisa beraktifitas di rumah.

Ketiga, kritis dan jeli membagikan informasi kepada orang lain. Karena di tengah pandemi tidak sedikit isu dan berita meresahkan banyak beredar. Ditunjang dengan kecepatan teknologi informasi yang bisa diakses di manapun dan oleh siapapun.

Keempat, menempatkan diri menjadi solusi, bukan menjadi penambah masalah dengan tidak menyebarkan virus kepada orang lain.

Kelima, berkontribusi melakukan gerakan kesadaran untuk membatu dan menaati pemerintah sebagai komitmen bersama di antara kebingunan banyak orang mencari solusi.

Keenam, melihat peristiwa dari sudut pandang keimanan. Artinya, ada ritual yang secara baru dilakukan tanpa mencelakakan orang lain. Iman kita bukan narsis, egois, dan mengabaikan keselamatan orang lain.

Temukan ekspresi iman secara baru tanpa mengurangi hekekat dan inti ajaran iman masing-masing. Selain itu merasa bersalah dan berdosa karena tidak menjaga kebersihan dan kesehatan serta kelestarian alam dan lingkungan secara sempurna.

Iman yang mendalam adalah iman yang melihat orang lain bekerja keras menyelesaikan masalah, seperti tenaga medis dan mereka yang tetap bertugas di saat semua berada di rumah dan menjaga jarak.

Mendoakan mereka supaya tetap mendapatkan lindungan dan berdoa bagi yang meninggal karena wabah. Intinya, kepekaan sosial dijadikan sesuatu yang sederhana dan mudah dilakukan.

Dan yang terakhir, meningkatkan relasi dengan Tuhan karena menyadari kecilnya manusia. Serta  kecanggihan teknologi juga dipaksa tidak bisa berbuat banyak mengatasi pandemi secara singkat.

 

Penulis adalah Romo Vikep Pastoral Keuskupan Surabaya.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.