Website Resmi Forum Kerukuman Umat Beragama Kabupaten Sidoarjo

Aksi 411 Dari Kacamata FKUB Sidoarjo

image601Sidoarjo – Aksi gelombang massa 4 November 2016 lalu, perihal dorongan penegakan hukum atas dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok ini menyisakan banyak perdebatan di kalangan masyarakat. Perdebatan terutama sangat terasa bagi mereka yang aktif di dunia maya. Akibat perdebatan tersebut, tak sedikit yang berujung pada caci maki, pertengkaran bahkan memutuskan pertemanan. Perdebatan menjadi melebar dan menyangkut isu sara baik itu atas nama agama (Islam dan Kristen) maupun atas nama etnis (Pribumi dan China). Menyikapi hal ini, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sidoarjo pun akhirnya angkat bicara.

Idham Kholiq selalu sekretaris FKUB Sidoarjo menyatakan dengan bijak bahwa ada tiga hal yang harus dipahami dan menjadi perhatian masyarakat luas. “Pertama, bahwa persoalan Ahok harus disikapi sebagai persoalan hukum. Oleh karena itu, FKUB Sidoarjo berharap semua masyarakat menyerahkan persoalan tersebut kepada para perangkat hukum”.

“Kedua, pada seluruh umat beragama, khususnya masyarakat Sidoarjo, untuk tetap menjaga kerukunan dan tidak terpengaruh dengan hal-hal yang terjadi di Jakarta. Jangan sampai persoalan di Jakarta dan kasus Ahok, menjadi pertengkaran dan pertikaian yang melelahkan dan berkelanjutan antara umat Islam dan Kristen di seluruh Indonesia.”

Idham menegaskan, “Hal ketiga yang patut dicermati adalah tetap menjaga situasi yang kondusif dan kerukunan umat beragama di Sidoarjo, dengan cara tetap saling menghormati masing-masing umat beragama. Sekaligus meningkatkan kerja sama antar umat beragama dalam koridor NKRI dan sebagai bangsa Indonesia”.

Dalam pandangan Idham Kholiq, FKUB Sidoarjo sebagai wadah bagi terciptanya kerukunan umat beragama, harus mengambil sikap tegas. Kasus Ahok jangan sampai kemudian menjadikan masyarakat khususnya umat beragama di Kabupaten Sidoarjo menjadi saling curiga dan membenci satu sama lain. Biarkan proses hukum berjalan sampai akhir tanpa ditambah kecurigaaan dan persoalan sara terutama terkait perbedaan agama.

Terakhir, Idham menyatakan “Harus selalu diingat dan disadari bahwa Indonesia ini terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras dan golongan. Ada enam agama yang diakui di negara ini. Jangan sampai yang mayoritas menjadi merasa superior.”

Leave A Reply

Your email address will not be published.