Website Resmi Forum Kerukuman Umat Beragama Kabupaten Sidoarjo

Agama dan Perjuangan

Oleh Pdt. Maradona Sibagariang, MSi

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Itu adalah salah satu pidato yang paling terkenal dari Presiden Soekarno. Ucapan itu adalah warisan berharga sebagai warning bagi seluruh warga negara bangsa ini.

Penjajahan oleh kolonial memang meninggalkan luka mendalam, tetapi itu bisa dipulihkan dengan semangat persatuan dan perjuangan bangsa ini. Namun, penindasan dan penjajahan di antara anak bangsa ini akan jauh lebih menyakitkan dan menghancurkan.

Ucapan Soekarno tadi bukan tidak beralasan, karena ia hidup di dua jaman yang berbeda, pra dan pasca kemerdekaan. Ia merasakan pahitnya ditindas penjajah kolonial, namun ia merasakan luka yang jauh lebih pahit ketika sesama anak bangsa saling menindas dan saling menyakiti.

Ketika memperjuangkan kemerdekaan, anak-anak bangsa ini bersatu padu, sehati sepikir. Tetapi setelah kemerdekaan itu didapat, anak-anak bangsa ini berebutan dan akhirnya saling menyikut.

Itulah jalan terjal yang diperingatkan oleh Soekarno. Ia melihat bahwa musuh di luar diri kita bisa dikalahkan dengan persatuan bangsa, namun jika musuh itu ternyata berasal dari dalam diri bangsa itu sendiri, itu jauh lebih sulit dihadapi.

Ibarat “musuh dalam selimut,” mendeteksi dan melawan musuh di dalam diri sendiri tidak semudah menghadapi musuh dari luar.

Kita harus bersyukur bahwa bangsa ini didirikan dan dibangun oleh para pahlawan yang berasal dari berbagai suku, agama, dan ras yang berbeda-beda. Perbedaan itu menjadi kekuatan dan keindahan bangsa ini. Berbeda-beda tetapi satu tujuan.

Kita bisa lihat bagaimana Pemuda Jawa, Ambon, Batak, dll., bersinergi menyatukan bangsa ini melalui Sumpah Pemuda. Kita bisa lihat bagaimana tokoh-tokoh ama Islam, Kristen, Buddha, dan Hindu bersatu padu melawan penjajah.

Itu menjadi poin penting ketika kita merayakan kemerdekaan bangsa ini. Kita ada saat ini karena kepelbagaian yang menyatu dalam satu spirit perjuangan. Dan ini membuktikan bahwa suku, agama, dan ras yang berbeda-beda jika didorong oleh nasionalisme yang kuat akan menjadi kunci kebangkitan bangsa ini.

Bangsa ini sebenarnya sudah berpengalaman dalam menghadapi tindakan-tindakan sekelompok orang yang ingin memecah belah bangsa ini. Dalam sejarahnya, berbagai model pemberontakan telah dihadapi, baik yang mengatasnamakan politik, agama, maupun kedaerahan.

Namun berkat perjuangan para bapak bangsa yang sangat mencintai NKRI, dan tentunya dengan berlandaskan Pancasila, semuanya itu bisa dihalau. Para bapak bangsa sudah paham, bahwa ketika persatuan di tengah bangsa ini rapuh, maka bangsa ini akan pecah berkeping-keping.

Dalam perayaan kemerdekaan RI ke-75 saat ini, apa yang menjadi tugas kita, khususnya umat beragama, dalam memaknai kemerdekaan tersebut?

Pertama, kita harus menyadari bahwa bangsa ini diperjuangkan dan dibangun oleh anak bangsa dengan agama dan suku yang berbeda-beda, tetapi karena nasionalisme yang kuat, semua menjadi satu dan kuat.

Kedua, semua agama memiliki mandat sebagai sarana untuk membawai damai, sehingga setiap pemeluk agama di tengah-tengah negeri ini berperan dalam menyiarkan damai sejahtera, bukan malah saling menyakiti dan saling melukai.

Ketiga, tugas kita saat ini adalah melestarikan kemerdekaan itu. Tugas melestarikan ini tentu tidak mudah. Ibarat melestarikan tanaman, kita harus mengairinya dengan teratur, membuang batu/kerikil yang tidak berguna, memberantas hama, memotong ranting busuk yang bisa mengganggu, memberi pupuk, dan sebagainya.

Umat beragama seyogianya harus digarda terdepan dalam merawat kemerdekaan ini. Agama harus menjadi sarana pemersatu bangsa, bukan pemecah belah.

Mari sejenak kita ingat kembali defenisi agama. Agama artinya “tidak kacau” (a: tidak, gama: kacau). Nah, sebagai orang yang beragama kita terpanggil untuk tidak mengacaukan bangsa ini, melainkan menyatukannya dalam cinta kasih kepada Tuhan yang Maha Esa.

Bangsa ini akan tetap kuat dan tangguh, ketika semua anak bangsa bersatu padu meski berbeda-beda.

Musuh kita saat ini, yaitu “musuh dalam selimut” amat nyata walau seringkali tindak tanduknya sangat cerdik, seperti “serigala berbulu domba.” Tampang mereka kelihatan teduh, tetapi sangat berbisa. Mereka seolah peduli pada kemajuan bangsa ini, nyatanya mereka hanya ingin mencari kekuasaan.

Kita harus jujur bahwa radikalisme sedang bertumbuh dengan subur di masa reformasi ini. Kita harus tetap waspada sekaligus jangan berlelah untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Tidak lupa, setiap umat beragama harus sadar dengan bahaya ini sekaligus berbenah diri untuk merawat dan melestarikan kemerdekaan bangsa ini dengan jalan hidup saling berdamai dan saling mengasihi. Merdeka!!!

Penulis adalah Pendeta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Leave A Reply

Your email address will not be published.